0334-392049
Jalan Mayjend Soekertyo – Sumbersari
blog-img
10/02/2026

Semangat dan Medali Perunggu Muhamad Zofan untuk Hadiah Terakhir di Masa Bakti SMK

Humas SMKN Rowokangkung | Informasi

Lumajang – Dalam detik-detik terakhir pertarungan sengit di matras Kejuaraan Pencak Silat Arya Wiraraja Island Van Java 2026, sorot mata Muhamad Zofan Raja Rifad (XII APAT) menatap tajam. Nafasnya tersengal, seragamnya basah oleh keringat, dan rasa pegal di sekujur tubuhnya menjadi saksi bisu perjuangan keras. Ketika pluit panjang akhirnya berbunyi, hasilnya adalah sebuah keputusan tipis yang memberikannya medali perunggu di kelas D Putra Tingkat Remaja. Bukan emas, bukan perak, tapi sebuah medali yang terasa lebih berharga dari logam mulia apa pun—sebab ini adalah persembahan terakhirnya sebagai siswa SMKN Rowokangkung, dan ia mendapatkannya dengan cara yang paling dramatis.

Zofan, yang membela kontingen Persinas ASAD Lumajang, nyaris tersingkir di babak awal. Lawan-lawannya datang dengan teknik yang tak terduga dan stamina yang menguji batas. Di satu pertandingan krusial, ia sempat terjatuh dan mendapat teguran. Namun, cahaya keputusasaan itu justru memantik api perlawanan yang lebih besar. Dengan sokongan teriakan semangat dari rekan-rekan kontingennya, Zofan bangkit. Jurus-jurus andalannya ia keluarkan dengan presisi mematikan, seolah menjawab setiap keraguan dengan keberanian.

“Ini untuk ibu, bapak, pelatih, dan sekolah saya. Mungkin ini kejuaraan terakhir saya dengan seragam ini,” ucap Zofan, suaranya parau namun penuh keyakinan, usai menerima medali. Matanya berkaca-kaca. “Saya ingin buktikan bahwa anak kelas XII yang hendak lulus masih punya semangat berapi-api. Perunggu ini bukan akhir, tapi bukti bahwa kita tidak pernah berhenti sebelum berjuang sampai titik darah penghabisan.”

Perjalanannya di dunia silat dipenuhi dengan lika-liku. Dari cedera yang hampir membuatnya pensiun, hingga rasa lelah mental jelang ujian kelulusan. Namun, tekadnya untuk mengukir satu prestasi lagi bagi almamater, SMKN Rowokangkung dengan visi “Membumi dan Bertumbuh”, mengalahkan segalanya. Visi “Bertumbuh” terasa sangat personal baginya: tumbuh dari seorang pemula yang ragu, menjadi petarung bermental baja yang mampu bangkit dari keterpurukan.

“Zofan adalah contoh nyata bahwa bertumbuh itu seringkali tentang bangkit, bukan tentang tidak pernah jatuh. Dia jatuh di matras, tapi berdiri lebih kuat. Dia hampir kalah, tapi mencuri kemenangan dengan hati,” puji salah seorang pelatihnya, yang mengaku terharu dengan semangat sang atlet.

Medali perunggu di leher Muhamad Zofan Raja Rifad bukan sekadar tanda juara ketiga. Ia adalah simbol dari sebuah perjalanan panjang, pengorbanan, dan tekad yang tak kenal menyerah. Sebuah prestasi yang mengukir pesan mendalam: bahwa kemenangan sejati tidak selalu diukur dari warna medali, tetapi dari seberapa besar hati yang dicurahkan dan seberapa keras bangkitnya dari setiap pukulan.

Sebelum meninggalkan arena, Zofan mencium medali perunggunya dan menengadah ke langit. Ini adalah akhir yang indah dan penuh drama untuk babak petualangan silatnya di bangku sekolah menengah. Dan bagi SMKN Rowokangkung, cerita Zofan menjadi legasi hidup tentang arti “membumi” dengan kerja keras dan “bertumbuh” melewati setiap rintangan.

 

Bagikan Ke:

Kategori

Populer